Sabtu, 16 Juli 2011

PAKDE UNUS

Oleh; Makmum Bingung

“He, mau kaukemanakan istriku! Kalian berani melawan sarjana muda he!” Untuk kesekian kali  aku mengintip amukannya dari balik jendela ruang tamu dengan gemetar. Entah kenapa pemuda gagah itu tampak beringas tiap Kamis Legi dan Senin Pon, padahal selain hari-hari itu ia pemuda yang biasa saja. Sebagaimana pemuda kampung yang lain, tiap pagi ia pergi ke tegalan dan pulang sebelum jam 5 sore, dan ketika malam tiba pemuda-pemuda desa tidak perlu rikuh jandoman bersamanya. Tapi terkadang kalau sedang malas, ia akan bermain kelereng bersama bocah-bocah atau main gambus buatan sendiri,  seolah tidak acuh dengan umurnya yang menginjak 30-an, sedangkan Ibuku sekarang sudah 27. Mungkin karena umurnya yang melebihi umur Ibuku, beliau mewantiku memanggilnya Pakde. “Bu, apa yang menyebabkan Pakde Unus gendeng seperti itu? Jadi merinding kalau melihatnya ngamuk kayak gitu, padahal kemarin ia bermain neker bersamaku”. Oh ya, pemuda yang kini aku lihat itu bernama Yunus. Dan sedari dulu, bisa jadi sebelum Ibuku lahir, budaya instan sudah masuk ke kampungku, sampai memanggil nama pun mereka suka yang instan, akhirnya Yunus berubah menjadi Unus.

Ketika hari-hari ngamuk-nya datang, penduduk kampung , -seperti sepakat- menutup pintu rumah dan melarang anak-anak bermain. Biasanya ia mulai mengamuk saat kami usai dengan urusan sekolah. Amukannya bukan sembarang amukan. Amukannya diawali dari musholah di depan rumahnya yang berlantai tanah, berdinding bambu. Setelah Dlohor ia dirikan, ia masuk ke dalam rumah mengambil bendo besar dan tajam. Ia angkat bendonya tinggi-tinggi, lalu mengelilingi desa sambil berteriak kencang. Yang membuatku heran, terkadang ia begitu fasih mengamuk dengan bahasa Arab. Keheranan ini mulai aku sadari saat Mbakyuku yang jebolan pesantren salaf memberitahuku. “jadi, itu bukan al-Qur’an tho Mba? Saya kira itu potongan ayat al-Qur’an, lho!”. Tanyaku suatu saat. “Bukan, mosok di al-Qur’an ada ayat yaa sukkaanu Tambar, aina hiya, zaujati?”  Yang menjawab malah ngeloyor –meninggalkanku-  sambil terkekeh. “Dasar bocah!”

Ibu mulai mendekap tubuhku yang gemetaran. Ibu bagiku adalah tempat berteduh yang paling nyaman dari segala permasalahan, terutama pada saat Bapak mengetahui aku sedang bermain seharian di tepi sungai. “Sudah berapa kali Bapak bilang! Jangan sekali-kali bermain di sungai! Nanti kalau tenggelam gimana?!” Ah…omelan seperti ini sudah jadi makananku sehari-hari, hilir-mudik dari telinga kiri keluar dari telinga kanan. Dan entah kenapa, setiap kali Bapak melarang malah membuatku penasaran, padahal ujung-ujungnya jempol dan telunjuk akan menancap keras di telingaku “Kamu itu! Dituturi kok ngeyel!”.  Maka, pada waktu itu aku berlari menggapai Ibu. Menggapai hakikat keteduhan.

Ibu mengajakku duduk di atas sofa merah bermotif bunga-bunga. Ia membelai rambutku pelan. Ketakutanku hilang sesuai dengan irama belaian. Namun ihwal pakde Unus harus tetap kutanyakan. “Kenapa Bu, pakde Unus seperti itu?”

Sebelum menjawab, Ibu menghela nafas dalam-dalam. Lalu matanya ia tutup perlahan, mencoba mengais memori yang sudah lama mengendap. “Pakde Unus adalah salah satu korban kebengisan masa lalu yang tidak mungkin bisa diubah” pandangan Ibu menerawang. Ketika pandangannya dialihkan ke arahku, senyumnya melebar.

“Mudeng le?”

“Mboten Bu!”

“Gini, Pean masih ingat Goder kan?”

“Ya ingat tho Bu! Dia kan burung perkututku yang paling aku sayang. Awas itu kucingnya lek Nah! Kalau ketemu pasti akan aku balang! Lek Nah juga sih! kenapa kucingnya dibiarin begitu saja!” ah, kenapa Lek Nah aku sertakan dalam obrolan ini? Dia kan tetanggaku yang paling baik. Dia sering membelikanku Gethuk buat sarapan pagi.“Husy! gak baik menggunjing orang!” mata Ibu sedikit melotot. Kepala aku tundukkan, menyesal. “Inggih Bu, aku khilaf” kataku lirih. Dan obrolan pun tetap berlangsung.

“Pean pasti sakit hati dengan kematian goder”.

“Ya pasti lha Bu!”

“Terus akankah dengan sakit hati Pean, goder hidup kembali?”

“Ya nggak Bu, tapi akhirnya Bapak membelikanku Srintil. Itu, sekarang dia lagi manggut-manggut di sangkarnya. Duh! manuk podangku yang paling sangar!”. Aku berdiri, mulut aku moncongkan ke depan dan lidah sedikit aku gerakkan seperti artis sinetron saat berciuman dengan si pacar. Eit.. moncong mulutku bukan untuk hal yang saru itu! Tapi untuk Srintil, supaya ia terangsang ‘ngoceh’ lewat bunyi moncong mulutku. “Wis…wis…sini duduk lagi, belum selesai ini!” Perintah Ibu. Aku patuh. “Tapi kamu tidak mendapatkan Srintil begitu saja kan? Kamu purik ke Bapak dulu selama 3 hari 3 malam tho?”

“he…he…he…iya!” Rona wajahku memalu, merah.

“Sama seperti kamu, anggap saja pakde Unus sekarang lagi purik”.

“Berarti pakde Unus juga kehilangan goder?”

“Yo nggak gitu” Ibu tersenyum kecil mendengar kesimpulanku.

“Dia purik karena kehilangan semangat hidupnya yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Ketika muda, pakde Unus adalah kebanggaan desa kita, ya Tambar ini. Semangat hidupnya ada di cita-citanya yang mulia. Dia ingin penduduk Tambar mengenal lebih dalam arti penting agama dan etika. Di usianya yang masih belia, dia sudah rela meninggalkan kedua orang tua untuk pergi ke sebuah pesantren yang kesohor tahfidz al-Qur’annya. Selama mondok, ia tidak pernah memberatkan keduanya. Karena kecerdasan yang ia punya, dengan singkat, ia sudah bisa menghapal 30 juz al-Qur’an di  luar kepala. Tidak hanya itu, pakde Unus juga lancar baca kitab kuning. Sungguh sebuah prestasi yang tak mungkin kebanyakan warga mencapainya. Dan pada saat sang kyai tahu bakat pakde Unus, dia begitu semangat ngompori untuk melanjutkan sekolah ke  universitas al-Qur’an  di Jakarta. Sang Kyai pun bersedia memberikan sedikit dana. Maka, dengan girang pakde Unus pulang ke kampung halaman memberitahukan nasib baiknya. Namun sayang, kegirangannya tidak berlangsung lama. Karena dia pulang pada waktu yang salah, saat kakak kandungnya sangat memerlukan uang untuk pencalonan dirinya sebagai lurah. Akhirnya cak-cek-cok antara kakak beradik pun terjadi, bahkan kedua orang tua pakde Unus turut memaksa menyerahkan dana kuliahnya. Ya, mungkin mereka melihat jabatan priyayi lebih bergengsi daripada menggunakan uang untuk sesuatu yang mereka anggap tak pasti. Pakde Unus pun mengalah. Meski  kakak kandungnya terpilih sebagai lurah pada akhirnya, dia malah terlihat murung. Dan kalau Ibu tidak lupa, kemenangan kakaknya dirayakan pada  Kamis Legi. Yang lebih mengherankan lagi adalah pada Kamis-Kamis selanjutnya pakde Unus sering berteriak tidak jelas”

“Lalu, apa yang terjadi dengan istri pakde Unus? Kenapa ia sering disebut dalam amukannya?” Tanyaku lebih lanjut.

“Lha, ketika orang tua pakde Unus mulai khawatir, mereka  mengadu kepada sang kyai. Pak kyai akhirnya memberikan jalan keluar yang memang bijaksana; Pakde Unus harus dinikahkan. Karena selama ini pakde Unus merasa asing di lingkungannya, bahkan orang tuanya pun tak bisa mengobati keterasingan yang dialami. Akibatnya setan mudah masuk dan mengganggu jiwanya. Maka pada saat-saat seperti inilah pakde Unus sangat membutuhkan perhatian dan belaian Ibu yang tidak bisa dihadirkan oleh Ibunya sendiri. Yang bisa menghadirkan belaian itu hanyalah bude Siti, istrinya. Seorang wanita tetangga desa. Dan benar apa yang dikatakan pak kyai. Setelah menikah, hidup pakde Unus mulai membaik. Dia sudah bisa keluar rumah memanggul cangkul dan membaur dengan pemuda-pemuda desa. Sayang, beberapa tahun kemudian, bahtera rumah tangganya dicoba gusti Allah. Bude Siti selingkuh dengan pacar lamanya. Perselingkuhan ini diketahui saat salah satu warga Tambar nyambangi saudaranya yang sekampung dengan bude Siti. Ah, tahu sendiri le warga desa, berita seperti ini akan cepat menjadi rahasia publik. Bude Siti pun menjadi buah mulut. Pakde Unus tak mau percaya dan menampik semua gosip. Tapi sayang, karena tuduhan yang dilontarkan sudah terlalu parah, bude Siti tak betah hidup di tengah-tengah desa. Ia minggat pada Senin Pon. Kasihan pakde Unus, kasihan!”

Air mataku menitik, jatuh satu-satu di atas pipi. Aku berdiri dan melangkah menggapai daun jendela. Aku melihat pakde Unus masih berteriak kencang, kali ini benar-benar kencang! “Mana istriku! Mana istriku!  Berani kau melawan sarjana muda he!”. Tangan Ibu tiba-tiba sudah berada di atas kepalaku. Oh benar-benar teduh…teduh…sentuhan Ibu.

“Suatu saat nanti, aku akan membuat sebuah cerita yang di dalamnya kau kan kujadikan teladan” Janjiku dalam hati. “Yaa sukkaanu Tambar, aina hiya, zaujati?” Suaranya masih menggema menyusuri sudut-sudut desa. Teriakannya, amukannya adalah semangatku yang takkan mati!

Kairo, 13 September 2008
Terima kasih kepada Ahmad Tohari dan mereka yang memberikan kerinduan, yang sangat

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. welcome to dunia blog mas :D mksh uda follow.. dtggu postingan2 slnjute

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. tunggu kisah selanjutnya, @iffah-ness..

    makasih juga udah dikonfirm Mbae..iya udah lama juga sih ngeblog, rumahkata.blogspot.com

    BalasHapus
  5. yang dialog jam itu di-publish... kan bagus juga :D

    BalasHapus